Properti di Yogyakarta Tetap Menarik
Daer
ah Istimewa Yogyakarta tetap menyimpan potensi besar di sektor properti. Pasalnya, Jogja adalah kawasan wisata dan pusat pendidikan yang selalu memiliki daya tarik bagi pendatang untuk tinggal.
Potensi tersebut membuat bisnis properti di Yogyakarta prospektif. Bahkan, pembeli dari luar Kota Pelajar ini diperkirakan mencapai 50%. Biasanya motivasi orang luar Jogja untuk tinggal adalah bersekolah. Mula-mula hanya indekos, kemudian jika saudaranya menyusul sekolah di Jogja, orangtuanya membeli rumah untuk anak-anaknya. Selain ditempati oleh mahasiswa, rumah juga diminati oleh mereka yang pernah tinggal atau bekerja di Yogyakarta, utamanya untuk tempat tinggal setelah memasuki masa pensiun.
Kawasan termahal berada di sekitar pusat kota, yakni di sepanjang Malioboro. Di sana harga tanah berkisar Rp30 juta – Rp40 juta per meter persegi. Tetapi ada yang menawarkan dengan harga Rp50 juta per meter persegi. Kawasan lain yang menjanjikan, antara lain Sleman dan Bantul. Sementara itu, rencana pembangunan bandara baru Yogyakarta di Kabupaten Kulonprogo membuat kawasan Wates—ibukota Kulonprogo—dan sekitarnya mulai dilirik pengembang.
Dominasi Cluster Kecil
Sejak sepuluh tahun terakhir, Yogyakarta dipenuhi oleh perumahan di atas lahan sempit, di bawah satu hektar. Hal ini disebabkan karena lahan di Jogja kian terbatas dan mahal. Sistem cluster kerap dipakai untuk produk sejenis karena dinilai lebih aman.
Rumah Rp600 Jutaan Paling Diminati
Berbeda dengan penjualan rumah di Jakarta dan sekitarnya yang didominasi rumah menengah-bawah dengan harga di bawah Rp500 jutaan, di Yogyakarta penjualan didominasi rumah menengah atas. Rumah di kisaran Rp600 jutaan – Rp800 jutaan laris manis di Yogyakarta.
